Sejarah
penggunaan ICT atau komputer di Indonesia tidak hanya dimulai dengan mulai
maraknya digunakan personal computer (PC) sekitar
awal tahun 80-an atau jaringan Internet sekitar awal tahun 90-an, tetapi jauh
sebelum itu yaitu sekitar akhir tahun 50-an.
Pada awal mulai
digunakannya peralatan IT atau komputer di Indonesia, tidak banyak perusahaan
yang dapat menggunakan peralatan komputer tersebut, karena pada saat itu
komputer masih langka dan sangat mahal harganya. Komputer yang digunakan pada
masa itu adalah komputer besar atau disebut dengan istilah komputer mainframe.
Merek komputer yang paling banyak digunakan di masa itu adalah komputer merek
IBM, bahkan konon sekitar tahun 60-an, terdapat suatu bank yang memberi nama
unit kerja pengolahan datanya dengan sebutan “Divisi IBM” hanya karena komputer
yang digunakannya bermerek IBM. Bahasan mengenai sejarah penggunaan ICT di
Indonesia dalam tulisan ini akan terbatas dan berakhir saat muncul Personal
Computer (PC) pada sekitar awal tahun 80-an dimana mulai banyak perusahaan yang
menggunakan PC dan jumlahnya menjadi tidak terhitung. Pada tahun 1956 Bank
Indonesia mulai menggunakan UNIVAC 1004, di tahun 60-an ITB mulai
menggunakan IBM 1401. Sejak setelah tahun
1967, permintaan pemasangan dan penggunaan peralatan komputer semakin meningkat
terutama pada instansi-instansi Pemerintah sehingga Pemerintah merasa perlu
untuk mengadakan pengaturan pemanfaatan peralatan komputer dengan membentuk
suatu badan yang dikenal dengan nama BAKOTAN (Badan Koordinasi Otomatisasi
Administrasi Negara) pada tanggal 4 Juli 1969 yang berfungsi sebagai konsultan
bagi instansi-instansi yang akan membeli atau menyewa peralatan komputer.
Sejak mulai maraknya penggunaan PC pada
awal tahun 80-an, maka selanjutnya semakin banyak perusahaan di Indonesia yang
menggunakan komputer dan jumlahnya menjadi tidak terhitung.
Penggunaan
ICT ini sangat penting bagi pendidikan di era globalisasi ini khususnya untuk
Indonesia. Dengan ICT kita bisa meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia agar
sederajat dengan pendidikan internasional yang mungkin jauh lebih berkembang
dari pada di Indonesia. Sekarang sudah banyak proses pembelajaran yang
berlangsung dengan menggunakan ICT, dengan ICT pembelajaran akan berlangsung
lebih efektif dan efisien. Siswa dan Guru bisa dengan bebas mengembangkan
kemampuan mereka dan mereka juga bisa berinteraksi denga siapa saja.
Dalam penggunaan ICT
Dwyer et al (1994) dan Yocum (1996) menemukan bahwa guru dengan orientasi yang
lebih konstruktivis lebih cenderung memilih perangkat lunak terbuka. Demikian
pula, Maor dan Taylor (1995) menemukan bahwa cara-cara di mana guru menggunakan
teknologi baru bervariasi sesuai dengan epistemologi orientasi mereka.
Baru-baru Gobbo dan Girardi (2002) dalam studi hubungan antara keyakinan guru
dan integrasi ICT di sekolah-sekolah Italia menemukan bahwa kedua teori pribadi
pengajaran dan tingkat kompetensi tidak mempengaruhi tingkat pemanfaatan serta
modalitas digunakan. Hal ini cenderung berjalan paralel dengan gaya pedagogis
dan pandangan epistemologis yang didukung oleh para guru. Akhirnya, Dwyer dan
rekan-rekannya (1991) menyimpulkan bahwa bahkan di mana guru yang didedikasikan
untuk penyelidikan dari potensi teknologi untuk meningkatkan pembelajaran,
mereka sering di cek oleh pribadi dan kebiasaan kelembagaan dan oleh variasi
dalam penyediaan peralatan dan struktur kelas yang tepat.
Industri
informasi, teknologi, dan komunikasi (ICT) sangat berperan dalam persaingan
dunia global yang semakin ketat. Negara yang tertinggal dalam hal perkembangan
dan penerapan ICT biasanya akan sulit bersaing. Dalam model ekonomi Solow,
kemajuan teknologi dapat menjelaskan terjadinya peningkatan standar kehidupan
masyarakat.
Di
Indonesia, industri ICT mulai tumbuh seiring membaiknya perekonomian karena
mengalirnya investasi asing. Pemerintah telah menetapkan target investasi
sebesar 6,5% guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Aliran
investasi asing di Indonesia dapat terlihat dari banyaknya pembangunan pabrik,
yang nilainya diperkirakan mencapai 10% dari GDP. Sehingga, pertumbuhan ekonomi
Indonesia diestimasi menjadi yang tertinggi diantara negara Asia Tenggara
lainnya.
Pertumbuhan
ekonomi Indonesia itulah yang membuat lembaga riset International Data
Corporation (IDC) berani mengestimasi belanja teknologi informasi tahun ini
dapat mencapai US$ 12,9 miliar, atau naik 18% dari tahun lalu. Bahkan bisa
mencapai 20% per tahun.
Pemicu
naiknya belanja TI tahun ini adalah karena investor dari pasar global berniat
mengalihkan investasinya ke negara berkembang yang dinilai berpeluang besar
untuk terus tumbuh. Diperkirakan dalam beberapa waktu mendatang, akan banyak
pabrik baru yang membutuhkan solusi konektivitas seperti mobile broadband dan
cloud computing.Dengan demikian, hal tersebut secara tidak langsung berakibat
ke pertumbuhan ICT.
Diperkirakan,
belanja IT Indonesia akan digunakan untuk membeli client systems (31,8%), IT
services (25,1%), paket software (10,6%), storage (7,5%), peripheral dan
aplikasi tambahan (7%), sistem server (8,8%), peralatan telekomunikasi
(3,4%), dan lain-lain (5,8% ).
Kompetisi
yang semakin ketat antar perusahaan juga menyebabkan tumbuhnya industri ICT di
Indonesia. Saat ini telah banyak perusahaan yang menerapkan komputerisasi di
segala aspek bisnisnya dan fokus ke layanan pelanggan berbasis value added
service. Hasil riset IDC mengatakan, sekitar 50% perusahaan di Indonesia akan
mengadopsi layanan cloud dalam jangka waktu 12-24 bulan mendatang karena mereka
mulai menyadari pentingnya efisiensi biaya operasional.
PT.
Telekomunikasi Indonesia (Telkom) tahun ini pun kian meningkatkan
agresivitasnya. Sebagai pionir di industri ICT berbasis TIME, Telkom sedang
berusaha mempercepat pembangunan jaringan serat optik ke wilayah perkotaan dan
membangun akses wireless fidelity (WiFi) secara nasional. Diharapkan upaya
tersebut bisa meningkatkan pendapatan bisnis broadband dengan target
pertumbuhan sekitar 20% di tahun ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar